A. ASAL USUL NAMA KULISUSU
Tradisi lisan menuturkan bahwa sebelum terbentuknya Barata Kulisusu, di Buton Utara sedikitnya terdapat tiga pusat pemukiman utama, yaitu Doule, Bengkudu, dan Lemo. Di tiga pusat pemukiman inilah yang menjadi asal mula orang Kulisusu pertama kemudian pindah ke suatu tempat yang dinamakan Lipu. Dalam perkembangan selanjutnya Lipu kemudian menjadi pusat pemerintahan sejak sebelum berintegrasi ke Buton hingga terbentuknya Barata Kulisusu. Selain nama Lipu, belakangan muncul pula nama Kulisusu dan Ereke. Akhirnya Lipu menjadi nama sebuah pusat pemerintahan, karena itu ada benteng, sedangkan nama Kulisusu menjadi sebutan suatu unit pemerintahan yang dinamakan Barata Kulisusu, bagian dari pemerintahan Kesultanan Buton, yang terbentuk pada masa pemerintahan La Elangi sebagai Sultan Buton IV (1578-1615).
Dalam sumber-sumber kuno Buton, nama Lipu dan Kulisusu kurang begitu dikenal. Dalam versi Buton kawasan ini disebut-sebut sebagai Pulau Ereke yang dikenal sejak masa pemerintahan Wa Kaakaa (1311-1365), itulah sebabnya ibukota Kecamatan Kulisusu dinamai Ereke (Abusaru, 2005: 1). Munculnya nama Kulisusu yang mendominasi dua nama lainnya, Lipu dan Ereke, awal mulanya terkait dengan penemuan kima susu (kerang siput laut) oleh seseorang yang bernama La Mahari, Sangia Yi Doule, saat hendak pergi berburu di Lemo ditemani dengan dua ekor anjing masing-masing bernama La Sara Bomba dan La Barbantingi (Abusaru, 2005: 2). Kedua anjing tersebut juga yang menemukan ee bula (air putih) tidak jauh dari temuan kima susu (Rahmat, 8 Januari 2011). Dituturkan bahwa kulit sebelah kanan kerang siput laut tersebut dibawa ke Ternate oleh La Ode Raja Tomba Mbahalo dan istrinya bernama Wa Ode Katanda disertai dengan 40 rumah tangga, isinya dibawa ke Tolaki oleh Kapita Haluoleo, dan kulit sebelah kiri disimpan di tempat semula (Abusaru, 2005 : 3). Orang Kulisusu menamakan kerang siput laut tersebut dengan istilah “Kima Susu” atau “Tongki-Tongki Susu” atau “Mata Morawu”. Tradisi lisan menuturkan bahwa penamaan Kulisusu bermula dimana ketika anjing menemukan induk kerang susu yang besar, gonggongan anjing mengeluarkan kata-kata “Kolingsusu-kolingsusu” untuk beberapa kali (Abu Hasan, 1989: 55). Dari kata ini muncul istilah Kolencucu, Kolengsusu atau Kolingsusu, lalu berubah menjadi Kulisusu untuk menyebut nama Barata Kulisusu, Distrik Kulisusu, dan Kecamatan Kulisusu. Interpretasi lain dapat dijelaskan bahwa kata “kuli”, yang kemudian melahirkan kata “kulisusu”, boleh jadi berasal dari salah satu bagian atau belahan (“kulit”) kerang siput laut yang ditemukan oleh Sangia Doule yang masih tersimpan sampai sekarang di Benteng Lipu. Orang Kulisusu menyebut bagian kulit (luar) dengan kata koleng atau kaleng atau kuli. Jadi kata “kuli” diambil dari kata “kulit”, maksudnya kulit (bagian luar) kerang siput (kima susu) tersebut (lihat gambar/foto “kima susu” berikut).
Salah satu bagian kulit “Kima Susu”, tersimpan di Benteng Lipu
B. SISTEM PEMERINTAHAN PRABARATA
Mengenai sistem pemerintahan di kawasan Buton Utara sebelum berintegrasi ke dalam wilayah Kesultanan Buton dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama-tama bahwa kawasan ini sebelum terintegrasi ke Buton merupakan satu unit pemerintahan yang berdiri sendiri dan berdaulat penuh. Hal ini dinyatakan dalam suatu Kajian Akademis Analisis Pembentukan Calon Kabupaten Utara (Pemekaran Kabupaten Muna) oleh Panitia Pusat Pembentukan Kabupaten Buton Utara (PPPKBU) dengan Pusat Pengembangan Potensi dan Profesi bahwa jauh sebelum Wa Kaakaa bertahta di Kerajaan Buton sebenarnya di kawasan Buton Utara telah menjadi daerah berdaulat, ditandai dengan beberapa bekas ibukota kerajaan yang sampai saat ini masih dapat disaksikan, misalnya Doule di puncak Gunung Wani, Bengkudu, Wamboule, dan Lipu merupakan saksi bisu pembuktian bahwa di kawasan tersebut pernah ada kedaulatan dan kemerdekaan (PPPKBU, 2006 : 110).
Tapi tradisi lisan menuturkan bahwa cikal bakal awal pemerintahan bermula di Lemo. Saat itu yang menjadi pemimpin adalah dua orang “juru bicara” (pandegau), masing-masing “juru bicara besar“ (pandegau ea) dan “juru bicara kecil” (pandegau ete). Pandegau ea berasal dari “Lemo Empat Rumahnya” (Lemo Pato Rahano) dan pandegau ete berasal dari “Lemo Tujuh Rumahnya” (Lemo Picu Rahano). Pada saat juru bicara bernama Layba dan istrinya bernama Watobi berkuasa, lahirlah seorang putri bernama Wa Ode Bilahi. Sejak itu dia telah diberi gelar Raja Lemo/Lakino Lemo atau disebut-sebut Sultan Ternate sebagai raja sejak masih kecil. Pada saat yang bersamaan diangkat seorang yang bernama Kopasarano untuk menjaga keselamatannya. Setelah besar ia dinobatkan sebagai Raja (Ratu) Lemo I. (Abusaru, 2005 : 7-8). Ketika menjadi raja, ia dinikahi oleh La Elangi, Sultan Buton IV. Pernikahan ini menjadi cikal bakal berintegrasinya kawasan Buton Utara ke dalam wilayah Kesultanan Buton.
Makam Wa Ode Bilahi di Benteng Lipu
Pernikahan La Elangi dengan Wa Ode Bilahi melahirkan seorang putra yang bernama La Ode-Ode. Tradisi lisan menuturkan bahwa ketika menganjak dewasa, ia melakukan kunjungan ke Buton ingin bertemu dengan sang ayah, La Elangi, setelah lama bertanya-tanya kepada ibunya untuk mengetahui keberadaan ayahnya. Dalam pertemuan itulah kawasan Buton Utara ditarik menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Buton dengan status barata dan La Ode-Ode dinobatkan sebagai Raja Barata Kulisusu pertama, dengan gelar lakina (orang Kulisusu menyebutnya lakino). Adapun pusat pemerintahannya ditetapkan di Lipu. Setelah integrasi mulai dibangun Benteng Lipu sebagai Kraton Kulisusu disusul dengan pembangunan sebuah mesjid, kamali (istana) dan baruga. Peristiwa integrasi tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 sesuai masa pemerintahan La Elangi sebagai Sultan Buton IV (1578-1615).
C. AWAL MASUKNYA AGAMA ISLAM
Abusaru menjelaskan bahwa pada tahun 1538 Syekh Abdul Wahid dari tanah Arab, cucu Nabi Muhammad tiba di Buton membawa Agama Islam dan diterima oleh Raja ke-6, Murhum, kemudian Murhum dinobatkan oleh Syekh Abdul Wahid sebagai Sultan Buton I, kemudian La Ode Rustam menerima Agama Islam dari Sultan Murhum untuk dikembangkan di Kulisusu, selanjutnya diterima oleh Lakino Lemo I, Wa Ode Bilahi dan Kopasarano. Keislaman rakyat Kulisusu diresmikan oleh Sultan ke-4 bernama Sultan Dayanu Ikhsnuddin, La Elangi. Masuknya Agama Islam di Kulisusu di daerah Lemo, pusat Kerajaan Lemo di Kadacua dekat Eengkineke (Abusaru, 2005 : 14). Pernyataan ini bisa diterima sesuai dengan tradisi Islamisasi. Sebelum La Elangi meresmikan Kulisusu sebagai bagian dari Buton, dan dengan demikian konsekwensinya adalah bahwa rakyat Kulisusu harus menyatakan diri masuk Islam, maka proses awal kearah integrasi itu sudah terjadi sebelumnya. Hal ini dapat didibandingkan dengan awal masuknya Agama Islam di Buton. Beberapa sumber Buton mengatakan bahwa sebelum Murhum dilantik menjadi Sultan Buton I pada tahun 948 Hijriah, sesungguhnya Islam sudah lebih dulu masuk di wilayah-wilayah pesisir Buton misalnya daerah Kamaru dan Lasalimu. Selain itu tradisi lisan menuturkan bahwa meskipun pengukuhan barata sebagai vazal Buton terjadi pada masa pemerintahan La Elangi, namun demikian kerja sama di bidang pertahanan antara wilayah-wilayah barata tersebut dengan Buton, jauh sebelumnya sudah terjalin, yakni sejak Sultan Murhum (Sultan I). Kerjasama ini dilatar belakangi oleh gangguan dari serangan-serangan bajak laut Tobelo (Ternate). Dengan demikian dapat dikatakan kontak antara Kulisusu dengan Buton sudah terjalin jauh sebelum La Elangi mengukuhkan Barata Kulisusu, boleh jadi kontak itu terjadi pula dalam bidang keagamaan dan oleh karena itu proses Islamisasi merupakan langkah awal menuju puncak integrasi Kulisusu ke Buton.
Tradisi lisan tidak menjelaskan bagaimana proses awal masuknya Agama Islam di Kulisusu yang bermula di Lemo itu dan bagaimana pula La Ode Rustam sampai ke Buton dan menerima Agama Islam dari Sultan Buton I. Abusaru selanjutnya mengatakan bahwa akhirnya La Ode Rustam diangkat menjadi Lakina Agama I dengan gelar Sangia Yi Agama Bangkudu dan kemudian menjadi Lakina Kulisusu kedua (Abusaru, 2005 : 14). Hal ini dapat dimengerti karena atas jasanya sebagai orang Kulisusu pertama yang menerima Agama Islam kemudian menyampaikan kepada Wa Ode Bilahi. Atas jasanya itu pula ia kemudian diangkat menjadi Lakina Kulisusu kedua. Selanjutnya sumber-sumber lokal dan Buton menyatakan bahwa secara resmi Islam menjadi agama yang wajib dianut di Kulisusu adalah ketika daerah ini resmi menjadi vazal Kesultanan Buton dengan status barata pada sekitar akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar